Showing posts with label indonesian history. Show all posts
Showing posts with label indonesian history. Show all posts

Thursday, January 31, 2013

PAPUA O NOUKAI



Saya membuat lagu ini, sebab tidak ada berita di koran dan televisi di pulau selain Papua yang mengingatkan hal ini adalah hal penting yang konon katanya kita menjunjung tinggi Hak Azasi Manusia. Di sana banyak pelanggaran Hak Azasi Manusia oleh aparat dan pemerintah kita sendiri. Lagu ini ada sebagai pengingat.
Dipersembahkan untuk Natan Tebai yang mengirim sajak-sajaknya kepada saya tentang keadaan Papua melalui surat elektronik pada saya di tahun 2012. Lagu ini selesai menjadi aransemen dasar sejak tanggal 31 Desember 2012. Akan diaransemen ulang oleh Deugalih & Folks.
Dan lirik pada lagu ini diambil dari kumpulan sajak Natan Tebai.
Bahasa yang dipakai pada lagu ini adalah bahasa Suku Mee, satu dari ratusan bahasa suku di Papua dan salahsatu suku yang hidup di tengah Freeport. Lagu ini, didedikasi untuk seluruh warga Papua bahwa adalah hak warga Papua untuk tidak dijajah, dieksploitasi dan dilupakan (baik untuk pendidikan, kesehatan, budaya, kekayaan alam dan ekonomi).
Terimakasih untuk Tiara Dewiyani yang menjadi penghubung Natan dan saya, terimakasih saya jadi banyak tahu tentang apa yang terjadi di Papua.
LIRIK
Papua ka tifa kou mananetiwei
Noukai makiyouga tifa kou nee ewei
O Noukai aniya makikou namadagai
O Noukai aniya makikou gaboo nayaikai
....
Tokilah tifa, di lembah Mama
Bunyikan tifa, anak Papua
O Mama, biarkan bangsaku tenang
O Mama, lindungi tanahku...
Papua O Noukai
(Deugalih, Natan Tebai, Tiara Dewiyani)
Cheers

Monday, December 17, 2012

KALATHIDA



Raden Ngabehi Rangga Warsita adalah seorang penyair, pujangga besar dari tanah Jawa. Ia berasal dari keluarga penyair keraton Surakarta yang termasyhur, yaitu keluarga Yasadipura. Rangga Warsita membuat syair-syair yang masih dikenal hingga saat ini. Salah satu syair yang terkenal yang merupakan karya besar Rangga Warsita adalah sebuah syair yang berupa wejangan, Serat Kalatidha. Serat Kalatidha adalah gambaran zaman yang disebut "zaman edan/zaman penuh kebingungan".

Raden Ngabehi Rangga Warsita lahir pada 14 Maret 1802 dengan nama asli Bagus Burham. Ayahnya seorang carik Kadipaten Anom yang bernama Raden Mas Pajangswara. Ibunya Raden Ayu Pajangswara merupakan keturunan ke-9 Sultan Trenggono dari Demak. Pada 24 Desember 1873, ia meninggal dunia. Tempat peristirahatan terakhirnya terletak di Palar, sebuah desa kecil di wilayah Klaten.

Kalatidha memiliki arti: zaman gila, zaman penuh keragu-raguan atau zaman edan. Karya sastra ini ditulis kurang lebih pada tahun 1860. Karya sastra ini berbentuk tembang macapat. Rangga Warsita menulis syair ini ketika pangkatnya tidak dinaikkan seperti diharapkan. Lalu ia menggeneralisir keadaan ini dan ia anggap secara umum bahwa zaman di mana ia hidup merupakan zaman gila di mana terjadi krisis. Saat itu Rangga Warsita merupakan pujangga kerajaan di Keraton Kasunanan Surakarta. Ia adalah pujangga terakhir Keraton Kasunanan Surakarta. Sebab setelah itu tidak ada pujangga kerajaan lagi.

Syair kalatidha menceritakan kondisi yang terjadi saat itu, yang disebabkan oleh raja yang lalim. Jika dikaitkan pada masa kini… maka silakan menyimak kembali saja sya'ir ini.

Saturday, December 1, 2012

PURAKA

Puraka berarti nafas yang teratur dalam seni Yoga. Ada pula yang menyebutkan arti Puraka adalah yang paling dekat dengan kehidupan manusia. Salah satu yang terdekat dalam hidup manusia, adalah perbedaan dan belajar memahami.


****

Hanya berbagi. Lirik ini diambil dari prasasti yang tertulis 1.300 tahun yang lalu; bagian warisan kekayaan intelektual dan spiritual, nenek moyang kita sendiri, satu dari bagian Prasasti Karang Tengah. Jika kita mencari yang tertulis pada bagian verse ini, tidaklah terdokumentasi dengan baik di negeri sendiri. Namun tersimpan baik oleh seorang filolog asal Belanda, Johannes Gijsbertus de Casparis, yang tercatat dalam bukunya Prasasti I: Inscripties uit de Çailendra-tijd, (1950). Mengenai inkarnasi (menubuh) dan re-inkarnasi (kembali menubuh).

Di balik kejadian yang ada dalam lagu ini, adalah ceritera mengenai kerukunan yang sering menjadi masalah di negeri ini sejak ribuan tahun lalu.

****

Puraka di balik lirik Deugalih & Folks, menyimpan cerita dari sejarah yang berulang-ulang di masa-lalu hingga kini, selama manusia masih hidup atau bernafas. Di balik syair masalalu yang lahir dari puncak kerukunan dan kedamaian yang terbentuk. Ini adalah sumber di balik cerita Puraka manusia ini pernah terjadi:

Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jiwatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Konon Buddha dan Shiwa merupakan dua zat yang berbeda, memang berbeda, namun bagaimana bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Shiwa adalah tunggal. Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.
- KAKAWIN SUTASOMA. 139, 5

Di zaman Majapahitada 9 sekte kepercayaan Hindu dan Buddha yang dipeluk oleh masyarakatnya yang menyebar sampai ke Bali dan semuanya hidup rukun dan tidak ada perselisihan. Yang dimaksudkan dari kakawin tersebut adalah: Sesungguhnya Tuhan hanya satu, tidak ada Tuhan yang ke dua. Yang dimaksud adalah Tuhan bagi Buddha dan Shiwa. Yang merupakan dua agama terbesar di era itu.