Saturday, September 15, 2018

Dari Chairil Anwar, Buat Gadis Rasid

Dari Chairil Anwar, Buat Gadis Rasid




Bandung, Maret 2006. Sejak pukul 6 pagi, saya mondar-mandir menunggu mahasiswa datang menawarkan pekerjaan di sebuah rental komputer, dekat kampus. Sampai pukul 12 siang di hari Senin itu, tak ada satupun tawaran yang datang.
Awal semester memang selalu pelit pekerjaan transkrip dan terjemahan, sebab mahasiswa belum kebagian tugas berat dari dosen. Diam-diam, saya mengutuk dosen yang tidak memberikan tugas yang menyita waktu pada mahasiswanya, sebab itu merugikan saya!
Rasa lapar membuat orang rela berbuat apa saja. Maka pergilah saya ke kampus, berharap ditraktir rokok dan makan oleh seorang kawan.
Dengan sigap, kawan ini merangkul saya yang memang sengaja pasang tampang memelas. Sesampainya di warung, ia bilang tanpa basa-basi, “Gini, Gal. Lu gue traktir makan dah!” ucapnya, “Asal lu bikin lagu dari puisi Chairil Anwar untuk acara tanggal 28 April nanti. Dosen minta ada yang bikin musikalisasi puisi dia. Kumaha?”
Dalam kehidupan ini, diam tidak menyelesaikan masalah. Sementara, cacing di perut nampaknya sedang tertawa terbahak-bahak. Dengan tegas, saya acungkan tangan ke penjaga warung dan berujar, “Teh! Nasi goreng satu!”
****
Dua jam kemudian saya diajak ke Gelanggang, Unit Kegiatan Mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Padjadjaran untuk bertemu panitia Hari Chairil Anwar. Lumayan, dari mereka saya mendapat buku antologi puisi Chairil.
Terus terang, saya sudah baca sebagian besar sajaknya. Jadi, tak perlu waktu lama untuk membolak-balik isi buku tersebut, dan mencari puisi yang pas dengan gaya lirik saya. Drap! Saya menutup buku, dan menepuk pundak salah satu panitia, “Oke, saya pilih Buat Gadis Rasid!”
Saya sengaja intip dengar ketika orang-orang di kampus sedang berlatih membaca puisi. Sepanjang mendengar mereka, pikiran saya bilang, “Wah, gampang betul baca sajaknya. Terlalu banyak main gestur, padahal sajaknya enggak segalak itu juga!” Atau, “Apa-apaan ini? Teksnya bagus, pas dibaca kok jadi jelek begitu?!”
Dari pengalaman itulah, saya terbersit: “Memangnya siapa Gadis Rasid di puisi ini? Jangan sampai saya bikin musik seburuk pembaca puisi amatiran di depan mata saya!” Bagaimanapun juga, sogokan paksa berupa nasi goreng dan buku ini mesti dipertanggungjawabkan!
Maka, diskusi kecil-kecilan dibuka dari warung kopi ke warung kopi, dari tukang nasi goreng ke tukang nasi goreng. Dengan kawan-kawan, saya membedah Buat Gadis Rasid. Ada sekian banyak opini, mitos, dan fragmen informasi yang terhimpun dari percakapan-percakapan ini. Jelas, banyak yang belum bisa dipastikan kebenarannya.
Sebagian kawan sepemikiran dengan Goenawan Mohamad, yang memandang keindahan sajak tersebut dalam sebuah esai pada tahun 2016:
“.....di sebelah sini ada daun-daun hijau, padang lapang dan anak-anak kecil tak bersalah. Tapi di sebelah sana ‘angin tajam kering, tanah semata gersang, pasir bangkit mentanduskan’. Dan di antara kedua sisi itulah, antara suasana terbuka yang segar dan ancaman ketandusan pikiran, sang penyair merasa terapit. ‘Kita terapit, cintaku-mengecil diri....’
Tapi tak mandek. Ia bahkan mengajak terbang, the only possible nonstop flight, terbang mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat. ‘Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati’. Yang penting bukanlah suatu arah, melainkan keberanian menjelajah. Yang penting bukanlah satu konklusi, melainkan eksplorasi...”
Namun, saya bersikukuh. Pendapat Goenawan Mohamad ini nampaknya kelewat fokus pada estetika puisi tersebut, dan tak banyak menghiraukan konteks sejarah dan keputusan pertanda yang dipakai dalam bahasa sang penyair – di mana bahasa mampu menjadi gambaran keadaan, persoalan zaman, dan apa yang sedang dibicarakan oleh masyarakat pada tahun 1948, ketika sajak tersebut ditulis. Seorang kawan malah tiba pada konklusi berbeda. Percakapan kami mengarah pada sejarah pesawat terbang dunia pada tahun 1948, dan ia berkata: “Barangkali, ini yang punya kaitan paling besar dengan Buat Gadis Rasid.”
Bait pertama dan kedua sajak tersebut jelas berkisah tentang keadaan dan kekayaan lingkungan. Anak-anak menjadi bagian penting dari semaraknya suasana di satu tempat – mereka tengah mempelajari lingkup hidupnya sembari mendewasa, sampai suatu saat nanti mampu membuktikan kepada dunia, dan kelak berkata: “Aku!” Hiperbola, dan stereotipe semangat muda semacam ini memang sering dipakai Chairil dalam sajak-sajaknya.
Dari sana, begitu banyak pertanyaan menggunung. Saya pun terdorong untuk mencari tahu lebih jauh mengenai hubungan Chairil Anwar dengan Gadis Rasid. Apalagi, keduanya pernah bekerja di tempat yang sama: sebuah majalah bernama Siasat.
Pencarian Pertama: Dari Chairil Anwar
Tahun 1949, Chairil pupus. Kematian itu tak lantas membuat namanya padam. Bahkan, ia terus terngiang di kepala pelukis legendaris Affandi, seolah kawannya itu benar ingin hidup seribu tahun lagi. Affandi sendiri memilih bungkam, dan tidak menghadiri pemakaman sahabatnya. Ia justru tertuntun untuk melunasi hutang melukis yang pernah diminta Chairil, seolah dari kubur pujangga itu mengomel: “Ayolah, lukis aku, Affandi. Sebab aku akan diingat di segala zaman...”
Setahun berlalu, omelan si Binatang Jalang itu seakan menghantui seniman lain. Tanpa Chairil, Tiga Menguak Takdir (Chairil, Asrul Sani, dan Rivai Apin) menulis Surat Kepercayaan Gelanggang. Buah pikir yang bisa mendefinisikan Chairil, sekaligus pokok ideologi dari para seniman Angkatan ‘45. Untuk memahami Chairil – pria kelahiran 26 Juli 1922 dan kutu buku yang congkak itu – perlu diingat bahwa ia adalah wujud dari semangat Angkatan ’45: terbuka pada pemikiran Barat, sekaligus amat nasionalis.
Semangat muda dan nasionalisme Chairil seolah menjadi tuntunan bagi seniman-seniman lain pada masanya. Mereka mencintai Bung Karno, namun tak segan membombardir retorika Sang Proklamator yang membatasi ekspresi berkesenian, dan bahkan tidak sungkan mencerca beliau. Mereka boleh jadi satu visi, namun mereka tidak jinak.
Sikap Chairil sebagai wakil suatu generasi merangsek di kepala anak-anak muda Angkatan ‘45 selama 7 tahun ia hidup di Jakarta. Ia datang tahun 1942, sampai komplikasi penyakit merenggut nyawanya pada tanggal 28 April 1949.
Dan, kematiannya yang sensasional itu tidak bisa dilihat sebagai akibat main gila dengan kupu-kupu malam saja. Kepergian Chairil adalah cerminan peliknya suasana sebelum dan sesudah Kemerdekaan, yang diwarnai dengan kemiskinan, kelaparan, dan rentannya perhatian terhadap kesehatan. Namun, pada saat itu pula Sjahrir, Hatta, dan Soekarno tengah meramu ideologi kebangsaan.
“Sekali berarti, sesudah itu mati.” Kata-kata Chairil itu seakan merangkum rasa ngeri, sekaligus menjadi definisi peran Angkatan ’45: sebuah masa di mana pemerintah dan seniman sama-sama keras kepala.
Kita mundurkan waktu sedikit untuk mencarinya, ketika ia masih hidup. Di sinilah kita temukan ia, di tempat yang paling sering ia kunjungi dan banyak mempengaruhinya: Pasar Senen.
Kawasan ini bersejarah bagi para seniman sejak 1940-an hingga 1950-an. Senen dipenuhi manusia-manusia kelas menengah-bawah, yang belum tentu tersentuh retorika Bung Karno. Tempat ini pula yang banyak mengilhami Chairil. Orang-orang Betawi, Minangkabau, Jawa, Ambon, dan Batak, kumpul semua di sana, berbicara dengan bahasanya masing-masing, dan berdagang – mulai dari barang seni, makanan daerah, buku, hingga kedai kopi.
Chairil sering bercakap-cakap sampai lupa waktu di sini, ditemani bergelas-gelas kopi yang seringnya tidak ia beli. Melainkan ditraktir, sebab ia jarang pegang uang, dan malah lebih sering mengutil duit orang. Lumayan: hasil cakap-cakap berhadiah itu kerap jadi bahan tulisan-tulisannya yang nangkring di Gelanggang, lembar kesenian dan kebudayaan majalah Siasat.
Alkisah, salah satu isu menarik yang kelak dijadikan sajak Buat Gadis Rasid bermula dari sini. Mungkin jika saya berandai-andai, terjadi percakapan seperti ini: “Sudah dengar, bung? A non-stop flight? Teknologi perang temuan Amerika paling ngeri, katanya.” Mulut-mulut di Pasar Senen sibuk membicarakan penemuan baru tersebut. Berita yang persis sama dengan apa yang dikatakan Gadis Rasid, di kantor Siasat.
Mendengar kabar teknologi perang ini, Chairil mendadak sontak teringat akan momen 10 Agustus 1945, ketika ia membeli radio bermerk Phillips dari Mevrouw Belanda yang sedang kesulitan ekonomi karena suaminya ditahan sekian lama oleh Jepang. Saat itu, semua pesawat radio disegel dan hanya satu frekuensi radio Jepang yang boleh didengar: Hosso Kyoku!
Radio Chairil ini kelak dibeli pula oleh Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia, untuk memantau siaran dari luar negeri. Dan kabar ini yang ia peroleh: “Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.”
Chairil bergegas ketika mendengar berita itu, lari menuju Komisi Bahasa Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur nomor 23. Dari Chairil, Subadio Sastrasatomo mendapat berita kekalahan Jepang. Ia meneruskan berita tersebut pada kelompok-kelompok pemuda Indonesia, yang seolah mendapat kabar gembira. Berita itulah yang menghantar Indonesia menyatakan kemerdekaan kelak pada hari Jumat, 17 Agustus tahun 1945.
Namun, ada yang mengganjal di benak Chairil. “Berapa banyak kematian orang tua dan anak-anak tidak bersalah, akibat teknologi pembunuh yang mengerikan itu?
Pencarian Kedua: Buat Gadis Rasid
Pencarian saya terhadap sosok Gadis Rasid bermuara pada informasi ini: bahwa ia lahir tahun 1923 di Bangkinang, dan ia adalah penulis sekaligus jurnalis yang tertarik pada persoalan budaya, peran perempuan, pendidikan, dan anak-anak.
Gadis mendirikan harian Sinar Baroe bersama Hetami dan Parada Harahap di zaman penjajahan Jepang. Sayang, antara 1942 sampai 1943, surat kabar ini ditunggangi dan dijadikan media propaganda oleh pemerintah kolonial Jepang, untuk menegaskan bahwa Jepang berbeda dengan Belanda yang hanya memberikan akses pendidikan pada kalangan priyayi. Hal tersebut, semata-mata untuk menarik simpati dengan memanfaatkan ketimpangan kelas yang terjadi di pemerintahan Hindia-Belanda. Di surat kabar ini, Gadis mengelola rubrik Taman Kanak-Kanak. Karena membaca rubrik asuhannya, Taufiq Ismail cilik kelak terinspirasi untuk menjadi seorang penyair.
Pada 4 Januari 1947, Rosihan Anwar dan Soedjatmoko mendirikan majalah mingguan bernuansa politik, Siasat. Gadis Rasid diangkat menjadi Redaktur majalah itu sejak pertama didirikan. Di edisi perdana Siasat, Gadis menuliskan hasil percakapannya dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mr. R. Soewandi, dengan judul Pembangunan Dimulai dari Pengajaran. Ia menjadi Redaktur tetap sampai majalah tersebut berhenti terbit di tahun 1959.
Kantor Siasat dan surat kabar Pedoman – yang terafiliasi dengan Partai Sosialis Indonesia besutan Sutan Sjahrir – berbagi kantor di daerah Gunung Sahari, Jakarta. Di sana pula, Gadis bertemu dengan Chairil Anwar, yang kemudian menjadi kontributor tetap di lembar kebudayaan Gelanggang.
Tidak ada catatan khusus mengenai bagaimana Chairil dan Gadis bertemu, meski lingkup kerja mereka sama. Yang jelas, mereka punya ketertarikan serupa. Chairil adalah keponakan Sjahrir, sedangkan Gadis adalah pemuja Sjahrir dan Bruno Kriesky; keduanya orang sosialis, cocok sudah dengan Chairil yang sosialis juga nasionalis.
Bisa jadi, kedekatan mereka bermula sejak Chairil mendapat kabar tentang bom atom Hiroshima-Nagasaki. Kala itu, Sjahrir sendiri yang mengutus Chairil menjadi kurir untuk menyampaikan berita tersebut kepada Subadio Sastrosatomo. Setelahnya? Tak ada catatan mengenai hubungan Chairil dengan Gadis dalam sejarah, hingga diterbitkannya buku kumpulan puisi Jang Terampas dan Jang Putuspada tahun 1949. Sajak Buat Gadis Rasid ada di sana.
Selain di Siasat, Gadis juga menulis beberapa buku mengenai budaya dan perempuan. Salah satunya adalah Sutan Takdir Alisjahbana: 10 Buah Interviu Berbagai-Bagai Soal Kebudajaan Di Tengah Perdjuangan Kebudajaan Indonesia, dan karya terakhirnya: Maria Ulfah Subadio, Pembela Kaumnya. Melalui buku biografi Maria Ulfah ini, cita-cita Gadis tersampaikan: menulis kisah seorang idealis yang sering mengkritik Bung Karno akibat sikapnya yang ultra-nasionalis, berpoligami dan gagap soal permasalahan kesetaraan perempuan.
Buku tentang Maria Ulfah ini pula yang menjadi karya penutup jalan hidupnya sebagai jurnalis sejati. Pada tanggal yang sama dengan kematian Chairil – 28 April – Gadis Rasid meninggalkan kita semua di tahun 1988.
Pencarian Ketiga: Dari Chairil Anwar, Buat Gadis Rasid
Percakapan ini mungkin pernah terjadi.
Kita kembali ke Pasar Senen, 1948. Seperti biasa, Chairil Anwar mengandalkan dan memanfaatkan nama besarnya sebagai penyair (yang miskin) untuk sekadar mendapatkan kopi gratis dari siapa saja yang mengidolakannya, dan mengajaknya bercengkrama. Tahun itu pula, Chairil mendengar seliweran berita yang jadi bahan kasak-kusuk para penghuni Senen. Tentang teknologi pesawat tempur air to air, dengan pengisian bahan bakar pesawat-ke-pesawat di udara, tanpa harus mendarat. Ia membayangkan pekik desing peluru di udara, menggerus kota-kota yang baru saja usai Perang Dunia II.
Jadwal ngantor Chairil memang seenak jidat. Bisa jadi, resah ini baru ia bawa ke kantor Siasat menjelang sore. Yang jelas, Chairil membagi wacana ini dengan perempuan yang ia idolakan, seorang jurnalis muda cerdas dengan tulisan yang dikenal kritis: Gadis Rasid.
“Baru tiga tahun usai Hiroshima-Nagasaki, sonderlupa dari pikirku!” keluh Chairil, seraya mengambil bangku dan langsung duduk. “Kini pesawat perang dengan teknologi non-stop flight? Gila! Bergidik!” Ia melotot dan mengedip liar ke segala arah, sembari mengeluarkan rokok yang kusut tertekuk dalam saku baju. Chairil menyalakannya, menghisap dalam-dalam, lantas menolehkan wajah membuang asap. Puff!
Sementara ia menginvasi Asia, di negaranya sendiri Jepang banyak ditinggali perempuan, anak-anak, dan sesepuh yang tidak dikirim berperang. Bahkan mungkin, orang-orang Jepang sendiri tidak tahu-menahu soal kejamnya tentara Dai Nipponketika menjajah Asia. Selama 3,5 tahun, mereka menyiksa habis negeri rempah di ujung Asia Tenggara. Sampai pada Agustus 1945, bom atom jatuh meluluhlantakkan Nagasaki dan Hiroshima, yang kemudian menjadi simbol dari perdamaian sekaligus ancaman teknologi perang!
Pikiran Chairil dan Gadis masih ada pada Agustus tahun 1945 itu. Ketika Nagasaki dan Hiroshima berubah menjadi daerah kosong dan kering, dengan bau yang menusuk tajam dari kematian-kematian manusia tidak berdosa. Di mana meskipun ada yang bertahan hidup, mereka mestilah menanggung risiko racun radiasi bom yang merusak secara fisik dan psikis.
"Mesin pembunuh lagi? Pesawat sonder mendarat dan berhenti untuk isi bahan bakar? Tetap terbang? Tetap menembaki?” Chairil nada bicaranya naik, tangannya bergerak menunjuk, debu rokok jatuh perlahan, “Gila!”
“Ah, Ril!” sahut Gadis, “Bom itu juga yang membuat Soekarno berdiri di depan podium Pegangsaan Timur. Otaknya yang serba nasionalis itu, mungkin tak sempat berpikir seperti kamu!” Keduanya menyunggingkan bibir, kecut. Berbincang mengenai a non stop flight dan kejahatan perang masa lalu, pastilah membuka memori panjang di keduanya sebagai anak yang dibesarkan di dua era jajahan; Hindia-Belanda dan Jepang.
“Jadi, ini pertanyaanku,” ucap Gadis, “Kemenangan macam apa yang didapat dari perang, Ril?”
Chairil termenung. “Sial juga pertanyaan itu,” batinnya. “Apa yang membedakan Jepang dari Indonesia? Mereka tidak segan membangun negaranya yang kini kecil di mata dunia. Tidak pula mengisar diri – mereka bangun bangsanya kembali dari nol, setelah dua kota itu diberangus. Mereka malah menghimpun dokter dan guru, sebagai malaikat penyelamat. Namun jika perang terjadi lagi, kemenangan apa yang didapat?”
“Tidak mendapat,” jawab Chairil, tidak pasti. “Kemerdekaan dan revolusi pun, tidak pernah bisa ditakar. Apalagi perang, bukan? Yang pasti... tidak ada. Tidak mendapat apa-apa.”
Gadis tersenyum lebar, sembari menyusun tumpukan kertas di atas meja redaksinya. “Jadi, sekarang kau sudah ada bahan bikin puisi untuk minggu ini, Ril?” godanya. “Buatlah itu untukku.” Chairil masih membayangkan jawabannya tadi. Sedangkan, kertas-kertas di meja redaksi itu telah rapi semua.
Rokok sebatang habis sudah, puntung mendarat di asbak. Gadis memang meminta Chairil membuat sajak. Persoalannya, sajak untuk dirinya sendiri atau untuk redaksi Gelanggang?
Tepatlah jika kegelisahan berbentuk sajak tersebut, kemudian diberi judul: Buat Gadis Rasid.

"Antara
daun-daun hijau
padang lapang dan terang
anak-anak kecil tidak bersalah, baru bisa lari-larian

burung-burung merdu
hujan segar dan menyebar
bangsa muda menjadi, baru bisa bilang ‘aku

Dan
angin tajam kering, tanah semata gersang
pasir bangkit mentanduskan, daerah dikosongi
Kita terapit, cintaku

- mengecil diri, kadang bisa mengisar setapak
Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati

Terbang
mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat
- the only possible non-stop flight
Tidak mendapat.”

Chairil Anwar, “Buat Gadis Rasid”, 1948

Pencarian Terakhir: Dari Gadis Rasid, Untuk Chairil Anwar
Namun Chairil mangkat pada tahun 1949, dan setahun kemudian Gadis Rasid menikah dengan Henk Rondonuwu. Bisa jadi, pernah ada kisah cinta antara keduanya. Atau bisa jadi, yang ada hanya ada kekaguman terhadap karya masing-masing, dan keterikatan yang terjadi karena cara pandang serupa.
Beruntung betul, pada tahun 2013 saya bertemu dengan Ibu Ratih Maduretno. Saya baru berhasil mewawancarainya pada tanggal 26 Oktober 2017, belum lama ini. Nama anak beliau Gadis Azzahra, diambil dari tokoh yang paling ia kagumi dalam hidupnya, dan sudah seperti sosok Ibu yang membesarkannya: Gadis Rasid.
Ratih adalah cucu dari Kasminten Kaston, salah satu anggota perempuan tertua di Partai Sosialis Indonesia (PSI). Anak dari Kasminten, Nanny Koestedjo, adalah Ibu kandung Ratih Maduretno. Dan Nanny adalah teman baik Gadis.
Sejak tahun 1974, Gadis sering berkunjung ke kediaman Kasminten di Jl. KH Mas Mansyur no. 110, Jakarta Pusat. Memang, dahulu rumah ini sering jadi tempat kumpul orang-orang eks-PSI dan alumni majalah Siasat: mulai dari Poppy Sjahrir (istri Sutan Sjahrir), Sudarpo, Soedjatmoko, Henk Rondonuwu, Maria Ulfah Subadio, dan tamu yang paling sering mampir, Gadis Rasid sendiri.
Hubungan Ratih dan Gadis begitu erat, sudah seperti Ibu dan anak. Antara 1974-1978, mereka nyaris tak terpisahkan. Gadis suka sekali memangku Ratih kecil, yang ketika itu baru berusia 7 tahun. Adapun pembicaraan mereka, para jebolan PSI dan Siasat yang terlunta-lunta di era Orde Baru ini, tidak begitu dipahami Ratih cilik.
Tahun 1978, Kasminten meninggal akibat stroke, tanpa sempat menyelesaikan buku yang ingin ia terbitkan mengenai kisah hidupnya sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia. Setelah Kasminten tiada, Gadis memberikan hadiah buku kumpulan puisi Chairil Anwar pada cucunya yang berduka. Rupanya, itulah pertemuan terakhir Ratih dengan Gadis Rasid.
“Tante Gadis harus ke Medan,” kata Nanny pada Ratih, anaknya. “Buku Chairil itu buatmu, dari Tante Gadis!”
Ratih membuka kisah tentang Gadis Rasid: “Orangnya cantik, cerdas, tomboy, dan pintar main piano,” kenangnya. “Dia suka datang ke rumah bersama Om Henk Rondonuwu, karena mereka memang orang-orang PSI.”
“Saya inget di satu siang, Tante Gadis datang ke rumah pakai rok, dan keserimpet! Karena Tante memang selalu pake celana pendek atau panjang. Semua orang tertawa – dia memang tomboy!”
Ketika saya menanyakannya tentang Sukarno dan Angkatan ’45, Ratih menjawab, “Ibu Maria Ulfah, hampir semua pemikirannya selalu bertentangan dengan Bung Karno,” ucapnya. “Begitu kata Ibu. Sedangkan yang lain tidak. Semua satu visi dengan Bung Karno.”
Namun, jawabannya berbeda jika menanyakan sikap Sukarno terhadap perempuan. “Maria Ulfah, Poppy Sjahrir, Tante Gadis Rasid dan bahkan Ibu sendiri tidak pernah suka pada orang yang poligami,” kisah Ratih. “Apalagi mereka berempat memiliki sejarah yang sama. Orang tua mereka sama-sama poligami.”
Ia pun melanjutkan, “Tante Gadis bilang: ‘Jangan karena kamu perempuan, lalu dengan menjadi perempuan, malah menghalangi apapun yang kamu ingin lakukan!’ Cara bicaranya memang sangat lembut, tapi kata-katanya selalu tegas. Itu yang sama saya lihat pada anak saya, Gadis Azzahra.”
“Tante tidak memperlakukan saya dan mbak Irma (anak Gadis Rasid – red) seperti anak kecil,” tambah Ratna. “Menurutnya, anak-anak bisa diajak bicara tentang sikap dewasa, karena sikaplah yang membentuk cara pikir anak. Apalagi di anak perempuan.” Gadis, kenangnya, memang selalu memiliki perhatian berlebih terhadap anak-anak. Terutama karena ia berharap banyak kepada peran perempuan di masa depan.
Terakhir: “Kata Ibu, Chairil itu suka, bahkan jatuh hati sama Tante Gadis,”
“Di rumah ada piano, dan Tante Gadis itu jago main piano,” kenangnya. “Dia suka memainkan lagu You Are My Destiny, nama penyanyinya Paul Anka. Tante Gadis pasti senang sekali kalau sudah main lagu itu. Dia selalu bilang: ‘Ini lagu kesukaan Tante, untuk Chairil Anwar.’”
****
Bagi saya, Buat Gadis Rasid disusun sebagaimana novel yang memiliki kisah unik, juga sarat konflik. Maka, kurang ajar jika saya hanya berusaha mengelu-elukan budaya membaca sajak, tanpa menilik sejarah di balik sajak tersebut. Apalagi, sebetulnya saya ini bukan pembaca sajak yang rajin.
Jadi, saya cukup membuat lagu saja. Ketika cerita itu sudah saya pegang, saya merasa senang, sebab itulah satu-satunya cara saya bisa bertanggungjawab. Pada traktiran nasi goreng, pada buku pemberian itu, pada kawan saya. Dan terutama pada Chairil, dan Gadis Rasid.
Saya meminjam komputer milik kawan untuk merekam musikalisasi puisi tersebut. Versi awalnya, dengan 4 chord, ditulis pada Maret 2006 dan segera saya anulir. Jelek! Barulah saya ubah jadi versi 2 chord pada pertengahan April 2006.
Versi dua chord ini yang paling cocok. Seperti mantra, dengan nada yang terbatas dan berulang-ulang. Pilihan tepat untuk bernyanyi meliuk-liuk, dan membangun suasana serta emosi. Tiap kali pentas, lagu itu tidak pernah sama dengan rekaman. Semuanya diperlakukan sebagaimana pembacaan sajak: suasana dan tempat bisa menegosiasikan narasi, bahkan sebelum musik dimulai. Tahun 2010, saya mengaransemen ulang musikalisasi puisi ini dengan Deugalih & Folks. Penekanan sajak diperjelas melalui aransemen yang memadukan pengaruh jazz, nada gamelan, sedikit grunge, dan folk rock.
Buat Gadis Rasid adalah satu-satunya sajak milik orang lain yang pernah saya jadikan lagu, dan saya tidak tertarik mengulangi hal yang sama lagi. Saya tahu, saya terlalu suka dengan sejarah, dan kadang menyiksa diri sendiri jika tidak menemukan jawabannya. Untuk saya, sajak ini indah secara bahasa dan nuansa. Pun, memiliki kemarahan yang besar.
Ah! Lagipula, semua diawali karena lapar. Itu juga yang menjodohkan saya dengan Chairil: lebih sering lapar daripada kenyang. Kalau saja saya perut saya tidak keroncongan hari itu, barangkali cerita ini dan lagu itu tidak akan pernah ada... (*)

Penulis: Galih Nugraha Su
Editor: Raka Ibrahim
Ilustrasi: Yulia Saraswati
Tulisan ini dimuat di Jurnal Ruang, 3 November 2017

No comments:

Post a Comment