Monday, December 17, 2012

KALATHIDA



Raden Ngabehi Rangga Warsita adalah seorang penyair, pujangga besar dari tanah Jawa. Ia berasal dari keluarga penyair keraton Surakarta yang termasyhur, yaitu keluarga Yasadipura. Rangga Warsita membuat syair-syair yang masih dikenal hingga saat ini. Salah satu syair yang terkenal yang merupakan karya besar Rangga Warsita adalah sebuah syair yang berupa wejangan, Serat Kalatidha. Serat Kalatidha adalah gambaran zaman yang disebut "zaman edan/zaman penuh kebingungan".

Raden Ngabehi Rangga Warsita lahir pada 14 Maret 1802 dengan nama asli Bagus Burham. Ayahnya seorang carik Kadipaten Anom yang bernama Raden Mas Pajangswara. Ibunya Raden Ayu Pajangswara merupakan keturunan ke-9 Sultan Trenggono dari Demak. Pada 24 Desember 1873, ia meninggal dunia. Tempat peristirahatan terakhirnya terletak di Palar, sebuah desa kecil di wilayah Klaten.

Kalatidha memiliki arti: zaman gila, zaman penuh keragu-raguan atau zaman edan. Karya sastra ini ditulis kurang lebih pada tahun 1860. Karya sastra ini berbentuk tembang macapat. Rangga Warsita menulis syair ini ketika pangkatnya tidak dinaikkan seperti diharapkan. Lalu ia menggeneralisir keadaan ini dan ia anggap secara umum bahwa zaman di mana ia hidup merupakan zaman gila di mana terjadi krisis. Saat itu Rangga Warsita merupakan pujangga kerajaan di Keraton Kasunanan Surakarta. Ia adalah pujangga terakhir Keraton Kasunanan Surakarta. Sebab setelah itu tidak ada pujangga kerajaan lagi.

Syair kalatidha menceritakan kondisi yang terjadi saat itu, yang disebabkan oleh raja yang lalim. Jika dikaitkan pada masa kini… maka silakan menyimak kembali saja sya'ir ini.

Tuesday, December 11, 2012

ALL WE NEED IS HAVE FUN, AT BABAKAN SILIWANGI


Deugalih & Folks. Live akustik di Sunday Smile Picnic, Babakan Siliwangi, Bandung.
Dokumentasi video: Andi Gondi (@andigondi)
This event created by: Gadis Azahra (@gadisazahra)


More:
visit: http://deugalihandfolks.com 

Sunday Smile Picnic, menjadi pelepas penat anak-anak muda Bandung bahkan yang dari luar kota Bandung, mereka menikmati hal seperti ini dengan sederhana, meski Sunday Smile Picnic diadakan hanya 3 bulan sekali. Kamu pun bisa membuat hal menyenangkan di sini seperti Sunday Smile Picnic, dengan cara kamu sendiri. Babakan Siliwangi adalah ruang publik yang tidak boleh dicemari tangan-tangan jahil.

Babakan Siliwangi memiliki tradisi yang terbentuk oleh anak mudanya. Ini menarik. Di mana mereka membawa makanan sendiri untuk dibagikan pada sesama pengunjung dan dengan begitu interaksi warga satu sama lain hampir tidak memiliki jarak. Saya pikir dengan tradisi ini, sangat positif, bahwa warga Bandung yang cerdas tidak perlu diingatkan "Hey, sumbangan yuk untuk dana anu-anu..." oh tidak perlu, sebab warga Bandung sudah terbiasa di sini dengan berbagi, seperti yang terjadi di setiap acara yang hadir di Babakan Siliwangi. Mereka bisa berbagi makanan ringan, buku, bibit tanaman dan apa saja yang bisa mereka bagi... sesuai dengan kebutuhan acara yang sedang dilangsungkan di hutan kota ini.

Dengan aktifnya berkegiatan di Babakan Siliwangi oleh anak-anak muda Bandung, tentu saja hal ini bisa membantu siswa-siswa sekolah dasar mempelajari mengenai hutan kecil dan kegunaan hutan di tengah kota yang dimiliki oleh mereka, dengan akses mudah serta menyenangkan. Sebab, selalu ada kegiatan menarik, menyenangkan dan edukatif di dalamnya. Seperti setiap minggunya kini diadakan kegiatan mainan rakyat, bersepeda, layar tancep, gelaran musik dan lain-lain.

All we need is have fun! Sebab bersenang-senang adalah hal yang paling kita suka dan sederhana.

Just make it simple, make it smart.

- Galih Su

VIDEO: DEUGALIH & FOLKS - ANAK SUNGAI (LIVE)

Live at Villa Husein, 2012.
documented by: Sunday Screen

VIDEO: DEUGALIH & FOLKS - EARTH (LIVE)

Deugalih & Folks. Live akustik, at Siera, Bandung.
Documented by: MalesBanget.com

VIDEO: KONSER KECIL DEUGALIH & FOLKS

Losari, Live at Beat & Bite, Februari 5th 2011.

Poem: Ageng Purna Galih (@sniboystempat) from Sungsang Lebam Telak (@sungsanglebam)
Music: Deugalih & Folks
Documented by: Gupta Ganesha (@guptaganesha)

River In The House, Live at Beat & Bite, Februari 5th 2011.

Lyric: Yadi Cubek
Music: Deugalih & Folks
Documented by: Gupta Ganesha (@guptaganesha)



***



Saturday, December 1, 2012

CATATAN MENGAJAR 25 OKTOBER 2012


Video teman-teman dari Kelompok Bengkirai sedang menyanyi lagu buatan mereka

Sudah satu bulan ini, akhirnya saya kembali aktif 'mengajar' yang lebih nyaman sebetulnya menemani anak-anak daripada disebut mengajar. Banyak kejutan yang saya temui dan tidak sedikit juga menemui kendala, yakni kendala harus menyesuaikan diri kembali dengan anak-anak, sebab sedari Idul Fitri sampai akhir bulan September saya tidak masuk sekolah; cukup lama absen dan bikin saya kangen... betul-betul kangen sama anak-anak.

Meski bingung dan masih lemas pada bulan pertama masuk sebab baru saja sehat, beberapa anak kelas 1 yang kini sudah kelas 2 meledek saya di amphy-teather, mereka nyanyi sambil bisik-bisik, Di masa depan, ada banyak pohon, robot-robot pintar dan kulkas pemasak. beberapa anak lain tertawa, salah satu anak melanjutkan bernyanyi dan tetap nyanyi bisik-bisik, Hey! robot penanam bunga! Rumahku di angkasa, sekolah pakai jetpack! mereka bernyanyi lagu karangan mereka ketika mereka kelas 1 SD, lagu yang dibuat mereka bersama saya .... ah sial! Anak-anak ini berhasil bikin saya senyam-senyum dan melanjut duduk mendekat pada mereka sambil nyanyi bareng lagu Bumiku Di Masa Depan yang mereka nyanyikan tadi ... ah gara-gara anak-anak ini, pingin rasanya segera aktif lagi dan segera masuk kelas mereka.

POM AIR

3 Mei 2012
Kelas musik untuk kelas 3 dan 4 dimulai pukul 07:30. Musik bisa dibilang, bagian dari komunikasi lanjutan dari perkembangan berbahasa, yakni menjadi bagian lirik. Anak-anak pernah bertanya, “Kak, apa hubungannya bercerita dengan musik?” Saya menjawab, “Bagaimana kamu bisa membuat lirik kalau kamu ngga punya cerita? Bagaimana kita bisa bercerita kalau kita ngga berimajinasi?”

Oke, cerita dimulai dulu ya. Begini…

“Kak Galih punya cerita, sebelum datang ke kelas kalian, aku berangkat dari Cijambe. Cijambe, Ujung Berung, pukul 6 pagi. Kamu tau? Daerah atas Cijambe setiap pagi, Kak Galih selalu sedih lihat pagi dengan kabut yang abu-abu bukan putih, ga seperti kabut seperti Kak Galih sewaktu masih seusia kalian, kabutnya putih, kalau bernapas dari mulut Kak Galih keluar asap, macam di Eropa pokoknya. Nah, berangkatlah Kak Galih, sampai depan jalan raya, kira-kira sudah 6:15, jalanan sudah mulai penuh kendaraan, hidung Kak Galih mulai gatal, aku alergi debu dan asap kotor, setiap pagi harus rela bersin-bersin kalau sudah di jalanan, yang kadang bikin repot orang-orang di angkot kalau Kak Galih naik, Kak Galih jadi sibuk sendiri deh akhirnya. Di angkot, ternyata angkotnya kosong, hanya ada 5 orang di sana, namun suasana di jalanan sangat macet meski di dalam angkot sini sepi. Kak Galih pikir Ada apa dengan jalanan, angkotnya kosong, kok macet. Orang-orang berbondong-bondong tiap pagi, seperti Kak Galih dan kalian, ada yang berangkat mengajar, bekerja dan sekolah. Selain penuh manusia, jalanan ini juga penuh asap, bikin ga betah deh pokoknya. Hmm, nah dari cuplikan cerita Kakak, ada yang mau bertanya dan berpendapat?” salahsatu anak mengacungkan tangannya “Seharusnya pakai kendaraan pribadi kalau di saat penting saja ya, Kak? Kalau kita masih sempat dan bisa pakai kendaraan umum, kenapa ngga.” Aku Tanya kembali, “Kamu ke sekolah naik apa?” dia menjawab “Mobil, Kak.” Aku mengangguk, “Tidak apa-apa, boleh kalian pakai kendaraan pribadi kok. Tapi, jangan lupa bertanggung-jawab, seperti menanam pohon agar polusi udaranya bisa dikurangi…” belum sempat meneruskan, anak-anak mengacung lagi, aku tunjuk, “Pakai kendaraan yang hemat energi juga, bisa mengurangi polusi, Kak. Naik sepeda contohnya.” …

BUMIKU DI MASA DEPAN

Video teman-teman Kelas 1 & 2 menyanyi lagu buatan mereka di Lembang 

Kamis 22 Maret 2012. Pukul 07:30 mengajar di kelas 3 dan 4. Dimulai dengan hearing session untuk kelas ini, yakni mendengarkan Jubing Kristanto - Mari Bergembira sebagai pembuka dan Beatles - When I'm Sixtyfour sebagai perkenalan membahas tema kali ini, yakni Petualang Waktu.

Aku tanya "Hmm, kalau kamu suatu hari umurnya 64. Seperti kata The Beatles ga ya? Temen-temen udah punya anak, pastinya Kak Galih udah kakek-kakek. Eh, sebelum kita ke masa depan, aku mau dongeng dari masa lalu dulu ya. Mari kita berangkat saat pertama kali manusia bermain alat musik. Setelah itu kita berangkat pada zaman mitologi Yunani tentang para Dewi Muse..." begitu kira-kira saya membuka perkenalan tentang Petualang Waktu dalam kaitannya dengan musik. Namun, saya cenderung suka anak-anak untuk sok tau terlebih dahulu, sebelum masuk pada wacana yang lebih luas, jadi saya gantungkan saja ceritanya dan saya ingin tau "Apa yang ada di pikiran anak-anak tentang masa depan mereka." Lalu saya bilang "Bagaimana, kalau kita bikin lirik? Ketika kalian sudah tidak di sekolah ini lagi?"

Anak-anak membagi menjadi 2 kelompok. Saya melihat kecenderungan, siapa yang mengendalikan tema dan siapa yang melanjutkan ide membuat lirik yang mereka buat.

Kelompok 1 bercerita ketika mereka pernah bermain dan belajar menyenangkan di sini. Ada satu ba'it lirik menarik di kelompok ini: Di masa depan, kita semua akan lebih bertanggung-jawab. Pada ba'it sebelumnya mereka bercerita tentang suka-duka di sekolah ini, mereka ingin sekali ngobrol dengan Kepala Sekolah ketika mereka lulus dari sekolah ini dan berbincang tentang banyak hal seputar sekolah ini dan ketika saya tanya "Aku ingin ngobrol apa aja, Kak. Aku juga ingin berbagi pendapat tentang sekolah dan pengalaman selama aku sekolah di sini." Saya anggguk-angguk, "Oke, kalian berani ga?" Mereka bilang, "Ya berani dong, Kak!"

PURAKA

Puraka berarti nafas yang teratur dalam seni Yoga. Ada pula yang menyebutkan arti Puraka adalah yang paling dekat dengan kehidupan manusia. Salah satu yang terdekat dalam hidup manusia, adalah perbedaan dan belajar memahami.


****

Hanya berbagi. Lirik ini diambil dari prasasti yang tertulis 1.300 tahun yang lalu; bagian warisan kekayaan intelektual dan spiritual, nenek moyang kita sendiri, satu dari bagian Prasasti Karang Tengah. Jika kita mencari yang tertulis pada bagian verse ini, tidaklah terdokumentasi dengan baik di negeri sendiri. Namun tersimpan baik oleh seorang filolog asal Belanda, Johannes Gijsbertus de Casparis, yang tercatat dalam bukunya Prasasti I: Inscripties uit de Çailendra-tijd, (1950). Mengenai inkarnasi (menubuh) dan re-inkarnasi (kembali menubuh).

Di balik kejadian yang ada dalam lagu ini, adalah ceritera mengenai kerukunan yang sering menjadi masalah di negeri ini sejak ribuan tahun lalu.

****

Puraka di balik lirik Deugalih & Folks, menyimpan cerita dari sejarah yang berulang-ulang di masa-lalu hingga kini, selama manusia masih hidup atau bernafas. Di balik syair masalalu yang lahir dari puncak kerukunan dan kedamaian yang terbentuk. Ini adalah sumber di balik cerita Puraka manusia ini pernah terjadi:

Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jiwatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Konon Buddha dan Shiwa merupakan dua zat yang berbeda, memang berbeda, namun bagaimana bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Shiwa adalah tunggal. Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.
- KAKAWIN SUTASOMA. 139, 5

Di zaman Majapahitada 9 sekte kepercayaan Hindu dan Buddha yang dipeluk oleh masyarakatnya yang menyebar sampai ke Bali dan semuanya hidup rukun dan tidak ada perselisihan. Yang dimaksudkan dari kakawin tersebut adalah: Sesungguhnya Tuhan hanya satu, tidak ada Tuhan yang ke dua. Yang dimaksud adalah Tuhan bagi Buddha dan Shiwa. Yang merupakan dua agama terbesar di era itu.

CATATAN KECIL, MENGINGAT: GADIS RASID

Antara
daun-daun hijau
padang lapang dan terang
anak-anak kecil tidak bersalah, baru bisa lari-larian

burung-burung merdu
hujan segar dan menyebar
bangsa muda menjadi, baru bisa bilang "aku"

Dan
angin tajam kering, tanah semata gersang
pasir bangkit mentanduskan, daerah dikosongi
Kita terapit, cintaku

-mengecil diri, kadang bisa mengisar setapak
mari kita lepas jiwa mencari jadi merpati

Terbang mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat

-the only possible non-stop flight
Tidak mendapat.

(Buat Gadis Rasid; Chairil Anwar, Ontologi: Yang Terampas dan Yang Putus, 1949)


Sayangnya tidak banyak catatan mengenai tokoh perempuan yang satu ini: Gadis Rasid. Adalah satu tokoh yang mesti diingat dan dicatat dalam sejarah perempuan pejuang Indonesia yang tidak boleh dilupakan. Ia adalah salah satu tokoh penulis dan jurnalis ternama di era 1940an sampai generasi era 1980an, seorang intelek, pejuang tangguh, pemuja Sutan Syahrir dan Bruno Kreisky (yang mana keduanya ialah seorang sosialis).

MELIHAT LAGU ANAK DARI BERBAGAI SISI

Saya adalah seorang yang lebih memercayai pengalaman dibanding hanya membaca saja, pun hal ini terjadi sebab jarangnya referensi yang membahas musik anak, dengan harapan sesedikitnya bisa saya kutip. Jadi walhasil tulisan ini pun, lebih mengarah pada apa yang saya alami. Semoga bermanfaat :)

***

Hari itu saya bertemu Ray, anak usia 4, dia bilang "Om, bikin lagu dong. Lagu tentang mobil, mobil truk. Mobil truk yang terbang ke langit. Di langit truknya ketemu burung." Saya mengernyit dahi apa anak ini ketularan bahasa sehari-hari saya ya? Saya bilang sama si Ray, "Nah loh Ray, susah dong bikin lagunya? Burungnya nyupir truk ngga?" Ray jawab "Iya!" dia lanjut dengan ketawa.

Baru saja kemarin saya ngobrol dengan Luthfi Adam yang me-request "Gal, buatin lagu anak." saya bilang, oke. Namun permasalahannya dalam kepala orang dewasa seperti saya dan Upil (Luthfi) yakni, anak-anak itu pikirannya sederhana dan lugas. Nah, setelah mendengar Ray, pendapat saya tentang sederhana... saya hapus. Anak seperti Ray, ternyata psychedelic banget (hahaha).

Lalu saya mulai berpikir tentang ketertarikan anak terhadap nada. "Hap! Lalu ditangkap." di sini, ledakan-ledakan seperti "Hap!", "Dor!", "Kring, kring, kring!" sepertinya memang jadi bagian favorit yang ditunggu anak-anak dalam satu lagu. Terbukti hampir setiap anak yang saya temui jika dalam kondisi mood yang baik akan mengucap "Hap!" dengan penuh semangat. Atau dengan kata lain, anak-anak sangat menyukai kejutan. Di lain hal, saya temui banyaknya lagu anak yang memakai non-lingua seperti "Tuk tik tak tik tuk" lalu "Dudidudi damdam dudidudi dam" atau lebih ekstrim lagi seperti "cukicakicu cukicakici" dan "Hoy nana hoy zimi zimi hoy nana hoy." Nah oke, saya simpan buat referensi jika sedang buat lagu untuk anak.

Yang ke dua. Saya bertanya pada Upil "Lagu anak?" Upil menjawab "Yang nadanya simpel, Gal. Yang anak-anak bisa nyanyi." secara tidak langsung, kembali, dalam pikiran orang dewasa seperti saya dan Upil melihat bahwa anak-anak belum mampu bernyanyi dengan nada yang sulit, apalagi untuk usia balita.

MENYELAM DAN TUMBUH

Menyelam dan Tumbuh

Tempatku di dalam mata air,
lebar kulihat terang matahari.

Jariku menyentuh matahari,
yang berenang tenang di mata air.


- Di antara udara, di antara tanah.

Galih Su, 2 Januari 2011. Remake dari Night, Secret, Patient And Float - November 2009


Lagu ini remake. Tadinya judulnya Night, Secret, Patient And Float. Lagu itu tentang bersabar, menjaga rahasia diri agar segala yang terhubung dengan diri tetap terjaga satu dengan yang lain, juga tentang hidup di waktu malam yang tenang yang selalu membuat saya selalu berangan dan berpikir menjadi seseorang yang dewasa, kelak. Sebelum lagu ini berubah judul dan berubah lirik (tadinya tidak berlirik).

Lagu ini dibuat ulang dengan judul Menyelam Dan Tumbuh. Sebab, mimpi pertama saya di awal Januari adalah mencuri bulan. Ceritanya begini:

Dua sahabat saya bilang saya harus menghapus bulan. Mereka bilang "Gal, curi bulannya!" saya bilang "Ada apa dengan bulan?" mereka menjawab "Bukan bulannya, Gal." Saya bingung, maksud mereka apa? ... Atas dasar tidak mau ambil pusing, jadi saya segera menggenggam bulan dan hup! Bulan, hilang begitu saja.

Ada sedikit kekhawatiran sebetulnya setelah bulan hilang akibat saya. Perlahan-lahan suasana berubah menjadi pagi setelah bulannya hilang dari malam. Memang dasar mimpi, dua teman saya pun hilang begitu saja, tapi entah mengapa saya kepingin bilang "Terimakasih." Tapi ya sudahlah, kadang terimakasih tidak perlu pakai batasan orangnya ada atau tidak, berterimakasih sajalah meskipun dua teman saya itu tring! zaaaaap! hilang!

KEPINGINNYA SIH BIKIN SEKOLAH

Kalo liat pendidikan di Indonesia, memang udah enak dari segi fasilitas, terutama bagi yang di kota. Laboratorium bahasa, laboratorim kimia, perpustakaan yang muat bayak ensiklopedia dan lain sebagainya. Dan guru pun upahnya tidak sekecil era tahun 80-90an, memang begitulah seharusnya, jika pendidikan kita ingin maju... ya semestinya pula kesejahteraan guru pun dipertimbangkan agar tidak terjadi kemalasan dan sistem yang begitu-begitu saja dalam pola pengajaran; dengan kesejahteraan yang cukup pula akan mendukung perubahan dan perkembangan yang positif dalam pendidikan, sebab pikiran guru-guru ini tidak tertuju pada isi perut, bagaimana kasih makan anak mereka, dan saya yakin tekanan di rumah sangat berpengaruh pada kondisi guru ketika mengajar.

Tapi di daerah, banyak juga yang bikin miris. Seperti tempat sekolah ibu saya mengajar sewaktu saya kecil; temboknya jamuran dan mau bobrok kelihatannya. Meskipun dari segi bangunan seperti mau runtuh, sekolah di tempat ibu sangat menarik untuk anak seperti saya... sebab banyak alat-alat musik tradisional seperti gamelan, buku-buku dongeng, koleksi wayang golek (meskipun hanya ada Cepot, Gatotkaca dan Semar) yang bikin saya kepingin belajar dan akhirnya lancar berbahasa sunda sebab bermain menjadi dalang (padahal saya dibesarkan di daerah yang subur dengan budaya wayang kulit dan wayang wong) dan tentunya koleksi Majalah Kuncung yang lengkap! Nah, coba tebak? Itu kan dari uang koperasi, kadang dari uang pribadi dari gaji mereka tentunya... huff, zaman itu, memang zaman ajaib; yah bisa jadi wajar ketika guru-guru ini kelaparan dan bikin proyek atas nama "Sumbangan Pembangunan Sekolah." yang sudah tidak asing lagi di kuping saya ketika saya SD.

AGIB DAN KRAYON

Saya punya teman, sahabat paling muda yang ceria dengan caranya sendiri. Usianya beranjak menuju 4 tahun. Nama lengkapnya, tidak pernah saya tau. Namanya Agib, Agib adalah cucu dari Ibu pemilik Kost di area Ngeumong Cafe and Library. Dan kita punya kesamaan yang banyak, mungkin mirip saya waktu kecil; sekitar krayon, bercerita tentang gambar yang dibuat susah-payah, lalu beratraksi menjadi barang-barang sekitar atau meniru benda yang dia gambar -- kata Agib "Agib lagi jadi kursi, didudukin orang-orang, dieeem aja." Agib memang unik, jago menggambar namun tidak kenal huruf dan angka dan ... Si Agib, jarang mandi! Bau! Apalagi kepalanya, bau matahari nempel sampe malem, sebab ga mandi dan kabur terus kalo disuruh mandi sama Si Ibu. Haha, penerus aing! Mana ada orang yang bilang mukanya mirip dengan saya pula, kasian dong kalo mirip, untung tuh bocah kulitnya putih -- kalo item, yah ampun deh, kembar jadinya ma gue.

"Om Galiiiihh, Agib gambar dooong." Seperti biasanya dia muncul sore sekitar pukul 3, dengan langkah kakinya yang tidak bisa berjalan dengan lambat. Langsung saja dia dengan tidak basa-basi, menuju saya yang sedang duduk tidak melakukan apa-apa jadi tambah cerah dengan tingkahnya yang petakilan, sebab ini bocah seenak-jidat saja ambil posisi duduk di paha saya, sambil merajuk minta diambilkan kertas dan krayon sambil menarik-narik baju. Ya terpaksa sudah harus menurut.